Get Study
the way how to get a simple study
Google
 
Web http://getstudy.blogspot.com
Tampilkan postingan dengan label TB's Write. Tampilkan semua postingan

Saatnya Komitmen Terjejak Lebih Dalam



Akhir tahun tak lama lagi terjelang. Pergantian tahun pun niscaya akan terlewati. Namun sebelum itu, tahun 2006 menjadi saat dari sekian banyak momen yang layak untuk dikenang dan disikapi secara positif. Mitra Perubahan Bank Indonesia dalam upaya untuk membuat perubahan dalam sikap dan cara pandang pegawai dalam bekerja dan berinteraksi untuk mencapai sasaran strategi yang telah ditentukan, ingin menyebarkan peranannya dan menumbuh kembangkan inspirasi yang selama ini terpendam dalam pikiran kita yang selama ini mungkin terjebak dalam lingkungannya yang cenderung aman dan nyaman (comfort zone).
Tahun 2006 Kantor Bank Indonesia (KBI) Makassar telah memberikan banyak kejutan dalam hal budaya kerja . Bukan itu saja, sejak naiknya status KBI Makassar dari kelas II menjadi kelas I, kesan mencuat dan fenomenal relatif melekat bagi KBI Makassar sebagai KBI di wilayah Indonesia Timur yang mencoba berperan jauh lebih aktif. Menjadikan Koordinator wilayah Indonesia bagian Timur ini layaknya peserta balap yang melesat begitu cepat mendahului pesaingnya dan percaya diri padahal cenderung tidak pernah dijagokan sebelumnya.
Perbaikan dan peningkatan kinerja secara simultan dan kontinyu aktif dilakukan. Pencarian karakter Bank Indonesia Makassar yang sesungguhnya terutama dalam hal budaya kerja terus digali tiada lelah. Tahun 2006, dicanangkannya sebagai tahun integritas yang mengutamakan kejujuran, komitmen dan konsistensi, pada prosesnya membuat pegawai untuk saling mengingatkan dan memacu lebih dan lebih untuk pemahaman akan pentingnya arti dari sosok pegawai Bank Indonesia yang lebih membumi. Untuk selalu melihat ke atas dalam hal ilmu pengetahuan dan tehnologi. Melihat ke bawah kepada mereka yang tidak bernasib sebaik kita. Keduanya berimbas positif agar kita dapat berbuat, belajar dan bekerja lebih dan lebih baik lagi. Dan agar kita dapat bekerja dengan ikhlas dan sungguh-sungguh karena Bank Indonesia telah memberikan begitu banyak kepada kita. Tak hanya materi, tetapi juga kekayaan ilmu dan interaksi sosial yang sulit dicari dalam organisasi /perusahaan lain. Apabila hal tersebut telah kita jalankan, kita akan selalu memberi yang terbaik kepada organisasi kita ini. Inilah tugas dari Mitra komitmen untuk berperan lebih jauh.
Telah banyak yang telah kita lakukan. Mitra Perubahan terus mengingatkan, mendukung serta memfasilitasi agar pegawai dapat lebih berkembang dan mengeksplorasi kelebihan diri yang tak pernah tergali sebelumnya. Pondasi dan landasan berpijak telah siap untuk menopang. Kesepakatan Imperial, Kesepakatan Quality, pertemuan Malino I dan II, team building dan outward bound activities dan berbagai pertemuan serta pelatihan telah kita jalani dan memotivasi diri untuk coba menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Code of Conduct dan Esprite De Corps, nilai-nilai pemurni yang telah siap mendukung kita untuk mengejawantahkan visi dan misi Bank Indonesia. Lalu, apakah kita sudah puas? Belum. Apakah masih ada yang kurang? Ya, ada.
₪₪₪₪₪₪₪

Di suatu waktu, Mekkah, di jaman Rasulullah SAW.
Kala itu Islam dalam masa keemasannya. Telah tersebar nilai kedamaian itu sampai benua asia dan Eropa. Arab menjadi negeri yang damai dan makmur. Begitu pula dengan tanah jajahan. Keadilan ditegakkan dan perdagangan menjadi marak karena kondisi negeri yang kondusif. Zakat menyebar dan merata dari yang berkelebihan kepada para fakir miskin. Kekayaan, hasil bumi dan perdagangan serta rampasan perang menjadi suatu pemudah dalam prosesnya menuju kemaslahan umat.
Pada suatu kesempatan berkumpullah beliau bersama sahabat-sahabat terdekat dan pengurus pemerintahan pada saat itu untuk membicarakan masalah yang menyangkut rakyat dan kelangsungan pemerintahan tanah arab pada masa-masa yang akan datang. Kesimpulannya, arab dan keislaman berada pada puncak kejayaannya. Keberhasilan yang absolut. Para sahabat pun bersorak gembira. Mereka berkata, “Ini saat-saat kemenangan kita. Saat yang ditunggu-tunggu. Akhirnya perjuangan kita tak sia-sia.” Dan segala ungkapan dan pernyataan kegembiraan terlontar karena berita ini.
Namun tak dinyana, rasulullah menangis. Beliau terlihat begitu sedih.
Para sahabat berhenti berbicara. Mereka kaget dan terheran-heran akibat ekspresi yang ditunjukkan oleh kekasih Allah SWT itu. Perlahan-lahan mereka mendekat dan bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa dirimu menangis. Bukankah seharusnya kita gembira dan bersyukur dengan berita ini dan menunjukkan bahwa apa yang kau katakan benar dan tindakan mu menunjukkan itu.” Lalu Rasullullah menjawab, “Apakah kalian pernah naik ke atas bukit? Apakah kalian pernah sampai ke puncaknya? Setelah kalian tiba di Puncak, apakah yang akan kalian lakukan? Apakah sesudah puncak itu?”
Sahabat terpaku. Sahabat terdiam. Mereka menjawab,”Kami akan menuruninya ya Rasulullah. Kami akan berjalan turun.” Dan mereka pun tersadar.

Rasulullah telah menyadari hal tersebut berabad-abad yang lalu. Bahwa sudah sifat manusia bereaksi relatif pro terhadap kecenderungan keadaan dan begitu sulit untuk mempertahankan sesuatu agar tetap berada di puncak tanpa harus menurun seperti titik atas pada kurva parabola positif.. Dan alangkah sulitnya mempertahankan keberhasilan itu. Oleh sebab itu terinspirasi kisah di atas, bagaimanapun kita harus belajar untuk tetap menjadi yang terbaik.
Dilihat dari fase peningkatan kualitas dan kuantitas kinerja pegawai Bank Indonesia yang dalam proses menjadi organisasi yang berbasis pengetahuan (learning organization), secara ringkas kita pegawai KBI Makassar dalam proses pembelajaran 3 gelombang. Trilogi ini terbagi atas 3 tahap. Yang pertama, yaitu tahap berkonsentrasi pada peningkatan proses kerja (improve work process). Dalam tahap ini kita bergerak maju lebih cepat dengan mengemban visi, misi dan tugas pokok yang dinavigasi oleh pola MOSAIC yang dianut oleh KBI Makassar, semangat Esprite De Corps dan kemudi Code of Conduct, untuk mengatasi hambatan dan batasan yang mungkin dan akan timbul, dilandasi oleh integritas pegawai yang berkualitas dan kreatif. Agar kita dapat terbang lebih tinggi namun tak lupa dengan bumi dimana kita berpijak.
Tahap yang kedua, tahap dimana bekerja cepat, tepat, efektif dan efisien telah menjadi sebuah kebiasaan dalam bekerja. Dan selanjutnya lebih memfokuskan pada peningkatan mengenai bagaimana cara bekerja (improve how to work). Fase ini banyak berkutat pada improvisasi cara berpikir dan pembelajaran mengenai masalah–masalah sistem yang dinamis, kompleks, dan mengandung konflik. Pada saat inilah diperlukan strategi untuk mencapai sasaran, ysng mana sasaran tersebut telah terpola dalam siklus budaya kerja yang di dalammya telah mengenal konsep TQM, Kaizen, 3K dan lain-lainnya
Pada gelombang ketiga, konsep pembelajaran benar–benar tertanam dalam organisasi sebagai cara pandang dan berpikir para pimpinan dan juga para pegawai KBI Makassar yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah rangkaian kode etik, prinsip dalam bersikap, berperilaku dan bekerja.
Dan terakhir, dan sepatutnya diingat, bahwa untuk menjadi yang terbaik butuh usaha terus menerus. Kita hidup dalam dunia yang terus berubah. Dunia yang terus menuntut kesempurnaan. Kesempurnaan akan produk dan jasa. Kesempurnaan akan kesan dan kenyamanan hidup. Kenyamanan akan pelayanan. Pelayanan yang terbaik saat ini akan menjadi sesuatu yang biasa beberapa tahun mendatang.
Oleh sebab itu, mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus terus memberikan yang terbaik. Dengan cara melakukan pengembangan diri dan produk terus menerus. Tidak hanya kita pegawai yang harus terpaksa menerima menjadi sebuah simbol kemajuan dan perubahan, tetapi semua tingkat atasan dan pimpinan harus konsekuensi dengan hal tersebut. Ingat, perilaku, tindakan dan ucapan pimpinan adalah perkara yang strategis. Mereka ditiru, diikuti dan dibela bawahannya. Bila hal tersebut tidak tercapai, tidak akan ada persamaan persepsi dan pola pikir kolektif sehingga budaya kerja itu tidak akan terkatakan dalam satu tindakan dan ucapan. Demi satu tujuan, final destination, pelayanan yang prima.
Dan merupakan sesuatu yang lazim dan bahkan suatu keharusan bahwa akan ada kesepakatan aryaduta yang lain. Kesepakan Quality berikutnya. Dan pertemuan Malino-Malino lainnya yang lebih ’dahsyat’ serta pelatihan-pelatihan yang lebih ’hi-tech’. Untuk pengetahuan dan kematangan diri yang lebih tinggi. Oleh sebab itu, jangan tanggung-tanggung!
~~~~~~~~~
Sekarang, berada di manakah kita? Dalam tahap mana kita berada?
Karena masalahnya, jika kita telah sebegitu efektif, sebegitu mapan dalam berfikir, tentu sebelumnya kita telah berkomitmen kepada organisasi kita untuk :
1. Menerima terhadap nilai-nilai dan tujuan organisasi
2. Bersedia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh atas nama organisasi, kalau perlu
3. Mengorbankan kepentingan pribadi tanpa mengharapkan apapun/pamrih.
Bisakah kita? Bisakah kita ’sehebat’ itu? Dapatkah teori demi teori itu diterapkan?
Anda menjawabnya satu kata : sulit. Betul sekali. Anda betul. Akan terasa sangat sulit. Saya pun merasakan bahwa hal tersebut merupakah hal yang kompleks. Akan tetapi bukan berarti tidak bisa. Ada orang yang bisa. Bahkan banyak orang. Dan ingat, orang-orang tersebut menjadi orang yang sukses dan berhasil. Itu nyata. Kisahnya dipublikasikan dimana-dimana. Kita dapat menyaksikannya di televisi atau membacanya dalam berbagai judul buku. Nama mereka diabadikan dalam suatu masa. Bahkan sepanjang masa. Perbuatan dan ucapan mereka dihargai dan berdedikasi. Cerita tentang mereka membuat kita terharu. Karena mereka berjuang untuk itu dan berkorban karenanya. Bahwa hasil yang besar pada kenyataannya mebutuhkan pengorbanan yang besar pula. Kita harus akui itu. Sekarang masalahnya, maukah kita berkorban? Maukah, dalam hati kecil kita, meraih secercah dari kegemilangan itu? Demi cita-cita dan harapan. Karena semua orang punya cita-cita. Pantaskah cita-cita itu diperjuangkan? Anda sendiri yang mampu menjawabnya Kini, tergantung dari sudut mana kita memandang.
Saya rasa tidak masalah untuk sedikit naif akan kemajuan, dimana sekeliling kita sudah merasa tidak peduli lagi dan cenderung untuk skeptis. Tidak juga harus pusing untuk over percaya diri, diantara sekian banyak sikap pesimistis yang tidak pada tempatnya untuk itu. Namun yang pasti, kita harus terbuka dan reflektif akan setiap perubahan dan kemajuan. Karena bila tidak, pada saatnya kita akan tertinggal . Dan akhirnya terlupakan. ~~~

Read On 0 comments

Dari Sebuah intermezzo: Tua di Kantor atau Tua di Jalan?


Kita sebagai pegawai kantoran pada proses peningkatan kemampuan dan kompetensi selalu dibekali dengan informasi dalam bentuk pelatihan, sosialisasi dan pembekalan-pembekalan yang beraneka rupa sesuai dengan bidang pekerjaan kita masing-masing. Saya, kali ini termasuk pegawai yang tak luput dalam perolehan kesempatan yang serupa.
Beberapa waktu yang lalu saya berangkat ke Kantor Pusat Jakarta mewakili Bank Indonesia Makassar, khususnya Seksi Kas untuk suatu sosialisasi yang berkaitan dengan jasa penukaran pihak ketiga, PPUPK. Tetapi disini saya tidak sedang mencoba untuk sharing ilmu yang saya dapat dari sosialisasi tersebut, namun jika boleh ingin sekedar berbincang monolog dengan Saudaraku sekalian yang budiman dan kritis akan keadaan sekitar.
Singkat kata, sesampainya di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng saya sudah memutuskan untuk menumpang bis Damri tujuan Gambir. Karena kebetulan Hotel tempat nanti menginap adalah Aryaduta di sekitar bundaran patung Pak Tani. Alasan idealnya sih biar bisa melihat kondisi kampung halaman terkini karena kebetulan juga saya besar di Jakarta. Tetapi alasan sebenarnya biar bisa irit uang perjalanan dinas. Itu jujur.
Hitung-hitung, kalau saya naik bis jam 12 siang, kira-kira jam setengah satu bisa tiba di Gambir. Kalau macet-macet ringan paling jam satu kurang sedikit. Tetapi astaga. Siapa nyana siapa duga, ternyata perjalanan menghabiskan waktu tiga jam! Sepanjang tol bukannya bebas hambatan malah rasanya seperti dihambat kiri-kanan. Memang, ini merupakan hal yang lazim untuk kota kosmopolitan seperti Jakarta. Seharusnya saya ingat ungkapan ”Ini Jakarta, Bung!”. Dan semestinya saya maklum itu. Namun saya lupa mempersiapkan dan membiasakan diri kembali untuk kondisi seperti ini. Kontan saya langsung bad mood abis. Habis mau bagaimana lagi. Kalau di jalan biasa saya bisa turun dari bis dan panggil ojek, terus keluar-masuk kampung lewat jalan tikus. Tapi ini di jan tol, Bapak-Ibu yang terhormat. Keluar tol terdekat kira-kira masih 2 km, dan saya lagi malas jalan kaki siang-siang dengan beban tas yang lumayan berat. Dan mustahil juga kalau harus lompat dari tol yang tingginya lebih dari 4 meter. Selain bakal jadi tontonan orang, untuk patah kaki 3 ruas, atau minimal keseleo permanen sangatlah mungkin. Jadi, apa yang kemudian sebaiknya saya lakukan? Yah, bersabar saja dan nikmati keadaan yang ada.
Sambil menahan jengkel karena tak bisa langsung pulang ke rumah orang tua dan bersua dengan sanak-kerabat, saya tarik nafas dalam-dalam dan mencoba memikirkan hal-hal yang menyenangkan tentang kampungnya orang betawi ini.

←↑→↓↔↕→

Peraturan lalu lintas three in one yang sempat heboh itu dan yang baru-baru ini mengenai fasililitas transportasi busway sepertinya tak mengurangi masalah rutin kemacetan di Jakarta. Beruntung kita sebagai pegawai kantoran karena diberi keleluasaan waktu dalam hal penggunaan hari dalam perjalanan dinas. Misalnya perjalanan dinas saya kali ini. Pelaksanaan acara hanya satu hari, tetapi perjalanan dinas selama tiga hari. Satu hari untuk berangkat dan satu hari untuk pulang. Menurut saya pribadi kita dapat beberapa keuntungan dari ketentuan ini. Selain kita dapat cukup beristirahat karena perjalanan yang mungkin melelahkan, juga untuk mengantisipasi hal-hal yang tak terduga, seperti kemacetan panjang yang saya alami di atas. Karena saya tahu bahwa ada instansi yang cukup ketat dalam hal perjalanan dinas. Jadi kesimpulannya, nyamanna tawwa kerja di BI!
Ya, thanks God, perasaan saya sudah mulai membaik sekarang. Tapi memang mesti diakui bahwa bekerja di Jakarta mau tak mau kita harus lebih bergegas dan serba dini dalam hal bertransportasi. Apalagi bagi rekan-rekan pegawai yang tinggal di pinggiran kota Jakarta. Penduduk marjinal, katanya pesimis. Paling yang dapat dihandalkan hanya kereta listrik. Paling kalau mau naik kendaraan pribadi cuma hari Sabtu - Minggu kalau mau jalan-jalan sama keluarga.
Seperti yang pembaca sudah tahu, bagi mereka yang masuk kantor jam 7 pagi, minimal jam 5.30 sudah bergegas dari rumah. Naik motor atau angkatan umum ke stasiun, lanjut naik kereta tujuan Gambir. Apapun keretanya, bisnis, eksekutif atau ekonomi, pasti penuh juga. Walaupun bisa diperkirakan waktu untuk sampai di tujuan, teteup, berasa juga kalau tiap hari rutinitasnya begitu-begitu saja. Sampai-sampai terpikir banyak cara untuk menyiasati agar tidak merasakan waktu berjalan. Dengerin music player, baca koran, atau punya klub dadakan olah pikir, gaple. Saking solidnya, nongkrong sambil main gaple di kereta sudah berkembang dengan pesat. Buktinya sekarang, sampai punya acara silaturahmi ke rumah-rumah dan arisan segala. Ck, Ck, Ck.
Malah bagi mereka yang jalur rumahnya tidak dilewati jalur kereta listrik tapi menggunakan bis kota, punya perkumpulan milis (mailing list) sendiri. Namanya ada yang Numpang_yuk@....com, 3.in.1@......com, dll. Caranya berdasarkan informasi yang ada dalam milis, tiap harinya mobil yang ditumpangi bisa berganti-ganti. Buat yang kena giliran bawa mobil berhenti di tempat yang ditentukan untuk menjemput penumpang yang janjian di milis. Nah, tiap penumpang urunan buat beli bensin seadanya Mungkin walaupun biayanya sama, tapi yang jelas gak usah desak-desakan dan lama nungguin bis segala. Pokoknya everybody happy, deh.
Karena makin ruwetnya kondisi yang terjadi dalam hal transportasi di Jakarta, sampai pernah ada yang bilang sama saya kalo di KBI tuh orang jadi tua di kantor. Kalo di KP orang malah jadi tua di jalan. Soalnya walaupun teng – go pulang, tetap aja sampai di rumah bisa di atas jam 6-7 karena macet. Jadi ada yang lama-lama tunggu di kantor atau nongkrong dulu. Pas jalanan udah agak lengang baru pulang. Memang sih gak sepenuhnya benar begitu. Namanya juga komentar liar, jadi yang dilihat cuma sepintas aja.
Namun seperti biasa, saya ambil positifnya aja. Apa itu? Kita di KBI mempunyai lokasi rumah yang relatif tidak begitu jauh dari kantor. Walaupun ada yang jauh tetap saja lebih cepat sampai di rumah dibandingkan dengan lokasi rumah yang dekat dengan kantor di Jakarta. Jadi selagi mengamati orang-orang di pinggir jalan dengan kehidupan dan pikirannya sendiri, saya membayangkan kembali kehidupan di KBI. Pulang ke rumah dengan rileks sambil senandungkan lagu ‘rumah kita’ nya Godbless dan menikmati lengangnya jalanan rute pulang.
. Sebaliknya kalau teman-teman dari KP datang ke KBI, jalan-jalannya pasti ke situ-situ aja. Ngebosenin katanya. Tapi mungkin itu tidak sepenuhnya benar. Karena apabila kita datang dari tempat yang ’hingar-bingar’ ke tempat yang ’adem ayem’ pastilah terasa tidak begitu dinamis.
Walaupun begitu bagi rekan-rekan di Jakarta, suka tidak suka kemacetan sudah bagian dari hidup. Bagi mereka, mau tidak mau cuma dua kemungkinan bisa di dapat; depresi atau semakin kuat dan resisten menghadapi tekanan. Namun apapun alasannya, bertugas di Jakarta selalu dirindukan. Karena hiburannya barangkali, sejuta harapannya mungkin, atau surga belanjanya.? Cocoklah bagi pribadi yang optimis. Sehingga pernah terpikir oleh saya untuk merasakan atmosfir yang serupa dengan rekan-rekan yang bertugas di Jakarta.
Anyway, tak terasa akhirnya sampai juga di hotel. Dan pada akhirnya pula saya cuma bisa berharap, semoga ketika kembali bertugas di Jakarta keadaan sudah semakin baik. Semoga.......


Read On 1 comments

Komitmen Mitra


Setiap perubahan yang terjadi selalu menjadikan masa lalu sebagai pembanding dan pengukur, yang pada akhirnya takkan ada perubahan tanpa peran masa lalu….

Untuk berubah, ke arah yang positif tentunya, kita dapat dan harus melakukan segala hal. Dan jelas untuk mengetahui apabila kita sudah berubah atau belum, bercermin ke masa lalu adalah salah satu hal yang layak untuk dilakukan. Dan untuk berubah kami yakin anda semua pasti tahu harus ada dorongan yang kuat untuk itu, dan tetap langgeng terpelihara. Untuk itulah dibutuhkan sebuah komitmen.
Sebagai salah satu bentuk mitra kerja, kami mencoba untuk menuangkan ide dan pemikiran pada suatu aspek yang memerlukan kesadaran nurani dan kebesaran hati untuk melaksanakan, yaitu komitmen, dengan disertai harapan akan adanya perubahan ke masa depan yang lebih baik, izinkanlah kami untuk memaparkan apa yang kami rasa perlu sebagai pijakan awal untuk melangkah.

Latar Belakang
KITA KOMPAK berisikan nilai-nilai dasar yang dalam penerapannya harus dengan kesadaran penuh dan keinginan dari pribadi pegawai. Yang semua membutuhkan konsekuensi sehingga dibutuhkan sebuah komitmen.
Dalam pemaparan tentang komitmen mungkin lebih membutuhkan lebih banyak penjelasan teorikal daripada program kerja mitra-mitra yang lain. Karena dibutuhkan suatu pemahaman yang baik dan benar yang nantinya diharapkan menjadi sebuah frame of mind yang telah menjadi suatu bentuk pemikiran yang tanpa sadar / menjadi kebiasaan yang baik (good habits).
Pernyataan dasar bahwa dalam pertumbuhan emosi dan spiritual manusia, pada awalnya kita akan mencari berbagai hal yang pada saatnya terbentuk berbagai karakter yang pada akhirnya membentuk prinsip-prinsip yang dianut manusia itu. Dan ketika pengaruh eksternal berusaha mempengaruhi sesuatu hal yang baik untuk mengubah salah satu karakter yang cendering negatif, maka harus ada keinginan yang kuat dari manusia itu sendiri untuk berubah. Dan untuk memotivasi seseorang untuk berubah itulah yang harus dipikirkan cara dan metodenya, baik melalui shock therapy ataupun dengan sikap persuasif yang terus menerus.
Pengertian komitmen yang berupa pengikatan, mengikat diri dengan suatu aturan untuk diikuti dan dilaksanakan sesuai dengan apa yang disepakati utnuk kepentingan bersama dan suatu hasil tertentu, yang berarti dalam implementasi dari komitmen ini mencakup semua kegiatan yang di dalamnya terdapat misi, tugas yang didedikasikan untuk kemajuan Bank Indonesia ke arah yang lebih baik.

Maksud, Tujuan, dan Target
Pada intinya orang lebih suka untuk memilih diingatkan, atau ditegur oleh orang yang layak untuk menegur. Dalam artian ketika seseorang yang kompeten di bidangnya, konsisten dalam ajarannya dan sudah diakui oleh kalangan luas, mendapatkan nilai lebih untuk mengajar, menghimbau, mengingatkan atau menasihatkan sesuatu hal kepada orang lain. Dan kebalikannya orang yang diberi ajaran, himbauan atau nasihat pun biasanya akan lebih mengerti dan lebih mudah mencapai kesadaran karena sekat hati yang tadinya terbiasa ditutup, orang itu relakan untuk terbuka karena tersentuh egonya atau keihlasan pribadi orang itu sendiri untuk berubah. Dan pola pikir yang sebelumnya mungkin sempit, terbatas, atau terpaku secara permanen, dan cenderung preventif dan defensif terhadap pengaruh baru yang masuk, akan lebih mudah menerima yang mungkin disebabkan oleh pembawaan materi yang kharismatik atau logika yang tersirat terasa lebih masuk akal bagi si penerima. Atau singkatnya kita dapat “tercerahkan” dari pencerahan yang diberikan dan dari kesempatan saling mengingatkan tersebut.
Dan karena sifat manusia yang selalu fluktuatif baik dari sisi emosional maupun spiritual, maka baiknya apabila pencerahan tersebut dapat berkala dan terus menerus agar kepekaan dan empati kita dapat selalu terjaga. Serta kita akan mendapatkan banyak keuntungan dari sisi intelektual yang selalu terisi dengan ilmu pengetahuan, dan mentalitas yang niscaya akan lebih seimbang. Sehingga untuk sesuatu yang baik dan benar, dan untuk kepentingan bersama yang akan membawa kita pada kemajuan, baik untuk individual maupun untuk lembaga kita ini, kita takkan sungkan-sungkan untuk berkomitmen dan menguatkan niat untuk melaksanakannya dengan sepenuh hati. Dan pada akhirnya, di tahun integritas ini, masalah komitmen bukan lagi sebagai masalah sehingga tidak perlu dipermasalahkan.

Kalau diizinkan untuk mengutip salah satu teori pemasaran yang lumayan jitu, kita dapat membentuk sumber daya manusia kita, sebagai suatu bentuk yang lain daripada yang lain, sesuatu yang baru dan berbeda, dan apabila harus dibandingkan dengan kompetitor lain, maka produk dari kompetitor tersebut menjadi tidak lagi relevan untuk dibandingkan. Atau option lain mungkin, kita dapat merubah sumber daya yang ada sekarang menjadi sesuatu yang jauh berbeda, sesuatu yang pada masa kini sudah langka, sehingga apabila dibandingkan dengan produk kompetitor yang lain, dengan biaya rendah serta inovasi dan kreatifitas yang tinggi dan motivasi yang kuat, kita dapat menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda dan tak dapt tergantikan oleh waktu.
Itu semua dapat terjadi jika dimulai dengan suatu pondasi, nilai yang mendasar, antara lain (lebih) berkomitmen dan berdisiplin untuk segala sesuatu. Niscaya. Insya Allah.
Demikian yang dapat kami paparkan untuk saat ini. Karena ini dibuat untuk kepentingan bersama, maka kami membuka diri untuk segala pemikiran, gagasan, kritik serta ide yang dapat memperbaiki dan menyempurnakan serta membawa kita ke arah yang baik. Atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Pada akhirnya kita akan yakin dan mampu untuk berkata, masa lalu, sekarang, dan masa depan, bukanlah sebuah topik yang menarik untuk diperrdebatkan, diukur dan dibandingkan, jika tidak ada perubahan nyata yang menyertainya…..


Read On 0 comments

TEMANKU SANG ABADI

Wahai Temanku
Mendekatlah
Aku telah bertekad kini
Demi sebuah janji

Temanku
Ajaklah aku,
bagaimanapun caranya
Apapun syaratnya

Aku terburu-buru
Aku diburu waktu
Tak banyak lagi waktuku
Sudah sedemikian dekat rasanya

Jangan tinggalkan aku seperti ini
Disini nyaman, disini hangat, disini terang
Tapi ini lampu temanku. Pastinya akan mati. Pasti
Aku ingin cahaya itu temanku
Aku ingin matahari.
Matahari yang abadi

Aku meradang
Aku membeku
Aku tak mampu bergerak
Aku terpatri
Aku terjebak
Tapi kusangsi, sangsi, kau mampu melihat itu

Jajallah aku, sebisamu
Tantanglah aku semampuku
Melewati batas akal, melampaui cakra gerak
Sampaiku tersengal-sengal, terbaring tak berdaya
Asal kau lebih percaya
Agar aku lebih bermakna

Sudah kupegang tanganmu
takkan kulepas. Ha ha ha
Kau takkan bisa meninggalkanku sekarang.
Jangan dulu teman, belum saatnya

Kau heran kenapa aku begini? Kau bingung ingin tahu?

Aku malu temanku. Malu kepadamu
Yang tak jera mengajak, membujuk, mengingatkan, mencandaiku
Sementara sudah sedemikian pegal telingaku mendengar seruanmu

Aku malu temanku. Malu dengan anak istriku
Dengan ocehannya. Dengan keinginannya, dengan harapannya
Aku ingin membuat mereka bangga

Aku jengah temanku. Jengah terhadap dunia
Betapa ku mengotorinya, betapa ku meremehkannya
Adakah karmanya padaku?

Aku iri temanku. Iri padamu
Iri pada mereka yang mendahuluiku
Aku ingin membalas, aku ingin melaju, aku ingin sejajar, aku ingin melambung

Aku ingkar temanku. Ingkar janji pada orangtuaku
Untuk menjadi lebih baik dari mereka, Untuk membuat mereka tersenyum
Untuk pertanggungjawaban mereka atasku kepada Tuhan

Aku takut temanku. Takut kepada Penciptaku
Dengan perhitungan-Nya, dengan firman-Nya
Terasa terlalu banyak kerugianku dibanding jatah waktuku

Aku hampa temanku. Putus pekaku
Akan sesuatu yang murni. Untuk sesuatu yang mulia
Sebelumku menjadi buta dan mati rasa

Untuk itu
Jangan tinggalkan aku
Untuk sepi sendiri
Jangan tinggalkan aku
demi kau Berjaya sendiri
Bawalah aku menerang bersamamu
Yakinkan aku bersinar denganmu
Jangan lewatkan aku, merayakannya bersamamu
Berpesta denganmu
Pada akhir nanti

SUDAH! STOP! CUKUP SUDAH!
Terlalu banyak bicaraku
Kini waktunya sudah
Menjawab dengan ragaku
Duduklah di sekeliling, dan saksikan aku


Hening.
Read On 0 comments

MIMPI TAK KUNJUNG USAI

Perjalanan ini panjang sekali.
Dan amat melelahkan.

Titik dimana ku mulai sudah tertinggal jauh.
Namun ujung satunya tak kunjung kulabuh.
Sampai-sampai, ku mulai sadar,
Inikah arah yang benar?

Sepenggal ingatan terlintas.
Ya ya. Mulai terlihat lebih jelas.

Kala itu, aku berjalan kaki.
Di kiriku tebing tinggi menerjal.
Di kananku lembah menukik curam.
Di depanku jalan berkelak-kelok, naik turun, sangat berliku.
Dan jalan ini luar biasa lebar.
Namun selayaknya milik bersama, ternyata tak bisa seenaknya.
Aku tak bisa jalan lurus di tengah, kalau tak ingin di gilas pengendara.
Bahkan untuk berjalan melompat-lompat di sisinya, sebagai sedikit rasa menikmati, aku ditegur, diteriaki, pernah juga disumpahi.
Bahaya dan bodoh, katanya.
Mengganggu pengendara, juga katanya.
Hei, dimana matamu! Bosan hidup lu! Ya, Itu juga katanya.

Jadi di sini tempatku sekarang.
Antara tepi jalan dan jurang.
Dengan debu pahit menerpa.
Dengan dingin kering yang jemu menyapa.
Tapi aku terus saja berjalan.
Pasrahkan hati untuk bertahan.

Entah ini mau disebut apa.
Keberkahankah, atau kepasrahan.
Adalah pemandangan sehari-hari,
untuk menyaksikan banyak kegelisahan dan kekecewaan.

Seperti penunggang motor itu,
Beradu sangat cepat.
Dengan yang menantang dan yang tertantang.
Hanya untuk terjatuh menggaruk aspal, bocor, patah dan akhirnya mati.

Atau seperti orang itu yang baru saja berlari melewatiku.
Dengan puluhan orang yang mengejar beringas sambil meneriaki koor: Copet! Copet! COPEET!
Penganiayaan sudah menantimu, batinku.

Dan hiruk pikuk ini.
Jalan ini kan lebar sekali. Lantas mengapa harus sesemrawut ini.

Ku sangka mereka orang-orang pintar dan terpelajar. Tetapi untuk jalani aturan saja tidak pernah bisa berjalan benar.

Atau bisa juga seperti anak kecil di depanku ini.
Umurnya masih lebih muda dibandingkan anakku.
Beberapa terbitan koran terkepit diketiaknya.
Tetapi Ya Tuhan. Mata lugunya memancarkan kegembiraan dan keyakinan. Demi prinsip klise yang langka dalam kenyataan, "lebih baik kerja halal daripada mengemis dan mencuri.”

Tiba-tiba dia menyentuh dan membuyarkan lamunanku. Lalu spontan berkata," om, kenapa om? Bengong nih. Gelisah ya, om? Belum dapat kerja ya, om?”
Lho, kok saya? saya tidak..., jawabku dalam diam.

DUUUKKKK! Suara itu menggema keras di kepalaku mengalahkan teriakan kesakitanku yang tertahan menyesakkan, sesaat sebelum pandanganku mengabur, hitam, dan semuanya terlihat gelap.

Pengendara yang menabrakku melarikan diri.

Kini,
aku berada di balik kemudi.
Sekarang, dan sampai saatnya nanti
Mengamati apa yang mataku lihat
Melakoni apa yang belum tentu seharusnya dibuat

Aku mulai merasa nyaman.
Kini aku tidak lagi kepanasan.
Apalagi harus kehujanan, sudah tidak masuk hitungan.
Aku sudah tidak terlalu memperhatikan, kalau jalan di depanku berkelak-kelok
dan berliku-liku.
Aku hanya senang karena jalan di depanku lebar.
Berkurang peduliku ketika ibu tua itu mengetuk kaca kemudiku.
Karena aku terlalu sibuk menghitung pendapatanku hari ini.
Bahkan saat ceroboh dan tanpa sadar menabrak orang yang sedang menyeberang, langsung kutancap gas menuju tempat ku bersenang-senang.

Tapi tunggu dulu,
Rasanya kukenal orang itu.
Serasa tidak asing. Sangat dekat. Seperti tehubung dengan nyawa.
Laksana ditegur nurani, kulaju mundur kemudiku.
Kuhela orang-orang berkerumun itu, pencopet itu, dan, gila, anak kecil penjual koran itu! Jadi orang yang kutabrak tadi...?

Diriku terbujur penuh luka.
Dalam koma Deja Vu yang tak juga terjaga,
Aku menyaksikan diriku berputar-putar.
Menjalani drama mimpi yang tak kunjung usai.

..........................................................
Read On 0 comments

TULISAN PERDANA

Aku masih Terlalu Muda


Lewat sudah seperempat abadku
Tubuh ini sudah berhenti tumbuh pula
Hanya selalu ada yang lahir untuk menggantikan yang mati
Tetapi otakku, dia tak pernah berhenti menyerap
Dan hatiku, tak lelah untuk selalu menilai dan memahami
Pandanganku semakin tajam
Bahkan sekecil lubang jarum pun, bisa kulihat tanpa mata berpicing
Aku dapat merasakan segalanya
Aku merasa semakin dewasa...

Kini, aku adalah pemimpin dunia
Penjaga sekumpulan besar keluarga
Pencetus gagasan yang dinanti
Penutup berbagai pesta
Dan penentu tuntutan kedamaian
Aku mengendalikan segalanya
Ya. ya. Aku merasa semakin matang

Merasakan pasti keberadaanku
Di semua penjuru mata angin
Langit terasa begitu dekat.....

Kini aku adalah raja muda
Bukan. Tepatnya aku adalah pangeran
Kekayaanku adalah keberhasilanku
Kekuasaanku adalah tamengku
Telah saatnya dan sudah sewajarnya
Aku merasa sangat bijaksana......

Namun hari ini aku terbangun dari tidur
dengan hantaman keras di pintu gerbang
istanaku. Teriakan gaduh dan bingar tiba-tiba memenuhi telingaku yang peka

Ada apa ini. Batinku terusik.
Ada sesuatu yang tidak beres.

Bergegas ku buka kubah itu
Kusaksikan jauh ke bawah lembah
Kusaksikan tanpa terkedipkan mata

Ribuan orang memadati tanahku yang luas sejauh mata memandang
Mereka mengeluh
Mereka teriak
Mereka memaki
Mereka menangis.....
Kepadaku

Mereka terlihat begitu kurus dan terbengkalai......

Ribuan orang lainnya berdiri mengitari
Mereka tersenyum
Mereka menyeringai
Mereka puas
Mereka tertawa
Dibelakangku

Mereka begitu menikmati
Mereka terlihat begitu gemuk dan sehat .....

Dimana mereka
Dimana orang-orang yang kuhandalkan
Orang-orang yang bersumpah setia
Bersumpah untuk segalanya

Itu mereka!
Sedang bernyanyi dan menari
Kupasang telingaku lebih lebar
untuk mendengar lebih baik
Jelas sudah
Mereka merayakan kebodohan dan kenaifanku

Apa arti semua ini
Aku serasa gamang
Inikah kenyataan itu?
Inikah hasil dari buah yang kutanam?
Inikah gambaran dari sebuah kearifan?
Inikah diriku?

Aku seperti semut di dunia yang luas
Aku seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan bencana besar
Kenyataan memang pahit, tetapi ternyata memang benar...
aku masih terlalu muda!
Read On 0 comments

Belajar Blog Untuk Pemula

Tukeran Link yuk.....

GetStudy
caranya mudah : copy kode dibawah ini dan masukkan diblog sobat hasilnya seperi diatas....

my friend's blog link

all friends

threeD Band

threeD Band